KEMISKINAN

KEMISKINAN

Berawal dari krisis moneter pada tahun 1997 masalah kemiskinan menjadi sebuah
fenomena bola salju, kemiskinan terus bertambah dari waktu kewaktu.
Masalah ini tentu saja akan menjadi bumerang bagi kehancuran Bangsa
kita. Jika tidak diambil langkah-langkah kongkret, maka kita akan
menjadi Bangsa terjajah setelah merdeka. Kita akan hanya menjadi Bangsa
kuli di negeri sendiri, dan menjadi penonton di negeri yang kaya.

Kemiskinan merupakan satu sisi yang ternyata mempengaruhi banyak sisi lain
kehidupan. Dari kemiskinan muncul kesenjangan, kebodohan, tidak sehat,
penyakit, lingkungan kumuh, air kotor, sanitasi air yang menyebabkan
banjir, rentan kebakaran, dan lain sebagainya. Dari kemiskinan ini juga
muncul penyakit sosial, pencurian dan perampokan, perjudian,
perkelahian, dan penyakit-penyakit sosial kehidupan lainnya.

Mari kita bicara data, bukan bermaksud mencari pembenaran, tapi inilah fakta
dan dari itu kita harus mulai bersama-sama bergerak menyelesaikan
masalah kemiskinan yang ada di sekitar kita. Berdasarkan sensus
penduduk pada tahun 1980, penduduk Banten berjumlah 4.015.837 jiwa,
kemudian pada tahun 2004 angka tersebut berlipat ganda menjadi
9.083.144 jiwa. Ini menandakan bahwa pertumbuhan penduduk Banten memang
sangat tinggi, antara 3-4% pertahun. Pertumbuhan penduduk ini tentu
saja tantangan bagi kita untuk mensiasatinya, supaya tidak terjadi
kepadatan penduduk yang mengakibatkan lingkungan yang tidak tertata dan
kumuh.

Sementara itu, data Bank Indonesia pada tahun 2003 menyebutkan angka kemiskinan
Banten sebesar 23,31% dan pada tahun 2004 sebesar 24,30%. Bicara
matematis, tentu saja bisa berkurang atau bertambah pada tahun ini.
Namun bicara kenyataan bahwa harga kebutuhan pokok terus meningkat,
Operasi Pasar bahkan tidak efektif untuk menekan harga-harga bahan
pokok yang terus meningkat dan kemiskinan menjadi sulit untuk di tekan
Oleh karena itu, dengan sumber daya yang kita miliki, mari bergerak
bersama menekan bahkan menurunkan angka kemiskinan. Jika kita bicara
kemiskinan, maka yang mungkin kita bisa pandang adalah masyarakat
miskin yang tergolong Komunitas Berpengahasilan Rendah (KBR). Karena
komunitas ini adalah masyarakat miskin yang selalu berpeluh keringat
dan berkeluh kesah untuk bertahan hidup, keberpihakan kita pada mereka
untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya maka akan
menjadikan komunitas ini menjadi embrio-embrio pembangunan perekonomian
Indonesia.

Kita berdayakan dan fasilitasi mereka untuk memperbaiki taraf hidupnya,
tidak harus memberikan bantuan atau sumbangan berupa uang. Kita bisa
memberikan bantuan teknis dan konsultasi dalam menyelesaikanmasalah-masalah yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian yang kita
lakukan adalah memperdayakan KBR untuk mempunyai analisis solusi bagi
daerahnya, sehingga akan tercipta implementasi tepat guna (appropriate implementation system).

Lingkungan Kumuh

Jika di setiap opini penulis di harian ini sering menyuarakan pendidikan,
maka penulis coba beropini tentang kemiskinan yang juga menjadi masalah
serius Bangsa ini dan Banten tercinta. Kemiskinan memang selalu
diasumsikan kebodohan, ketertinggalan, tidak sehat, dan lingkungan
kumuh. Tentang lingkungan dan permukiman kumuh ini menjadi dasar
bergerak kita seharusnya, karena lingkungan dan permukiman kumuh akan
berakibat pada kesehatan, kerentanan musibah, kebersihan, psikologi
sosial, sanitasi air, dan lain sebagainya. Bukankah motto ”di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” adalah benar adanya? Oleh
karena itu, menyediakan permukiman dan lingkungan yang sehat bagi warga
miskin sangatlah penting. Penyediaan lingkungan dan permukiman ini akan
menjadikan masyarakat memiliki budaya sehat.

Masalah lingkungan dan permukiman kumuh sudah menjadi perhatian dunia
Internasional. Pada tahun 2000, PBB telah menyepakati Pembangunan
Global yang dituangkan dalam Millenium Development Goal (MDG), salah
satu target MDG adalah meningkatkan kualitas 100 juta masyarakat
permukiman kumuh pada tahun 2020. kemudian pada tahun 2001, Wakil
Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan ”Gerakan Nasional
Penanganan Lingkungan Kumuh”. Oleh karena itu, mari membangun kesadaran
bersama untuk menangani masalah permukiman kumuh.

Kesenjangan
apa yang terjadi antara kota dan desa ternyata membawa akibat pada daya
pikir masyarakat desa, mereka mencoba mengadu nasib ke kota dengan
bermodalkan nekad dan keberuntungan, ada yang menjadi buruh pabrik,
pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang beca, dan lain sebagainya.
Banyak juga dari mereka yang menjadi pengangguran di kota. Kita memang tidak bisa menarik mundur penduduk desa yang melakukan perpindahan ke kota, yang
harus kita lakukan sekarang adalah pencegahan dan penanggulangan
setelah urbanisasi terjadi. Fenomena ini memang sering disebut dengan
Urbanisasi, laju perpindahan penduduk yang mengakibatkan munculnya
permukiman kumuh di berbagi sudut perkotaan.

Apabila tidak segera di ambil langkah-langkah proaktif dan di arahkan pada
permukiman yang baik dan sehat, maka akan terjadi permukiman over capacity, tidak sehat, kotor, rentan penyakit, dan kerawanan sosial. Langkah
penanganan lingkungan dan permukiman kumuh ini akan mempengaruhi sosial
ekonomi masyarakat dan akan mendorong terwujudnya jiwa solidaritas dan
perekonomian produktif. Penataan lingkungan yang baik juga akan
menjadikan masyarakat berbudaya sehat dan peduli lingkungan.

Partisipasi Bersama

Banyak konsep dan kebijakan yang mungkin bisa dilakukan pemerintah, tapi
apabila kita mampu bergandeng tangan untuk melakukannya, maka indikator
keberhasilannya akan sangat baik. Kita bersama mewujudkan amanat UUD
1945 pasal 28H bahwa ”setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan
sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Seperti kita tahu perumahan yang ada sekarang hanya mampu mengakses komunitas
menengah ke atas, sedangkan kaum miskin yang tergolong Komunitas
Berpenghasilan Rendah (KBR) hanya mampu menempati bedengan/Kontrakan
yang ada di sudut-sudut kota, sehingga timbulah lingkungan dan
permukiman kumuh. Sudah saatnya kita hilangan lingkungan dan permukiman
kumuh , tapi bukan manusianya. Kita fasilitasi masyarakat KBR untuk
mendapatkan rumah atau perumahan yang layak huni dengan lingkungan yang
sehat. Pemerintah bisa saja memberikan kredit bersubsidi kepemilikian
rumah agar KBR mendapatkan hunian yang layak, bahkan dunia usaha atau
investor bisa saja memberikan kemudahan untuk KBR untuk mendapatkan
permukiman yang layak. Kelompok KBR ini juga bisa saja bergotong royong
dan membangun kesadaran bersama dengan fasilitasi konsultan dari
permerintah untuk memperbaiki lingkungan dan permukiman mereka.

Kebijakan yang akan dilaksanakan haruslah merupakan kegiatan partisipatif, karena dengan kebersamaan maka akan terwujud; Pertama, Pemerintah akan mampu menyusun rencana pembangunan perumahan secara partisipatif, ini merupakan investasi sosial (social invesment) yang akan meningkatkan kredibilitas Pemerintah Daerah setempat. Kedua,
bagi Komunitas Berpenghasilan Rendah (KBR), mereka diberikan kesempatan
untuk memiliki perumahan layak huni dan lingkungan sehat, hal ini akan
berpengaruh pada mental, sosial kemasyarakatan, dan ekonomi kerakyatan.
Ketiga, dengan konsep kebersamaan dan partisipatif maka
akan tercipta kembali nilai-nilai luhur Bangsa kita, seperti gotong
royong, toleransi, tenggang rasa, dan lain sebagainya.

Marilah kita mempunyai kesadaran dan kepedulian, karena tanpa itu semua kemiskinan di indonesia ini tidak  akan pernah bisa tuntas dan
permukiman kumuh akan terus bertambah dan kita akan menjadi Utopia di
negeri kaya, sehingga banjir, kebakaran, dan
musibah-musibah lainnya akan menjadi hal yang lumrah terjadi di sekitar
kita. Mari bersama peduli, kita hilangkan egoistis dan jiwa Hedonisme
yang ada dalam diri kitakita harus  yakin bahwa di dalam diri kita semua, masih
punya sisi baik yang berasal dari hati nurani untuk peduli akan nasib
rakyat yang kini hidup renta tak berdaya. Kita berdayakan mereka untuk
meningkatkan taraf hidupnya, dimulai dengan menyediakan permukiman dan
lingkungan sehat untuk mereka.hal yang harus kita ingat adalah bahwa mereka yang kekurangan adalah mereka yang punya penghasilan di bawah rata-rata Dan kita harus benar-benar peduli sama rakyat yang kekurangan karena kemiskinasn adalah masalah kita bersama,tanpa terkecuali…

NEGARA KITA ADALAH NEGARA YANG SANGAT KAYA AKAN SUMBER DAYA ALAM NYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: